Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe
Selasa, 21 Mei 2013
... " Kabupaten Kepulauan Sangihe sebagai Kabupaten Bahari yang Sejahtera dan Bermartabat " ...
Selayang Pandang
Visi Misi

Arti Lambang Daerah

Eksekutif

Legislatif

Peta Pembagian Klaster
Klaster P. Tatoareng
Klaster Dagho, dsk
Klaster Tahuna, dsk
Klaster Manalu, dsk
Klaster P. Marore, dsk
Perikanan
Pertanian
Objek Wisata
Wisata Budaya
Industri Kecil
Pertambangan
Perhotelan
Perbankan
Transportasi
Perguruan Tinggi
Rumah Sakit
PDAM
Peraturan Daerah
Perijinan pada KPPT
Retribusi Izin Gangguan
Retribusi TDU
Retribusi IMB
Retribusi Catatan Sipil
   
   
   
   
   
 

I. Pendahuluan

Kampung Kawio adalah sebuah kampung di Kecamatan Kepulauan Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara yang terletak di utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Philipina dengan jarak kurang lebih 37 Mil laut. Masyarakatnya berasal dari suku Sangihe sehingga bahasa daerah yang di gunakan adalah bahasa Sangihe.

Kampung Kawio adalah salah satu Pulau Kecil Terluar di Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan luas Pulau ± 140,11 Ha Terdiri dari 3 (Tiga) gugusan pulau yaitu pulau Kemboleng, Pulau Kawio dan Pulau Dokole. Pesona Alam Pulau ini sangat memukau dengan di Kelilingi Pasir Putih seperti mutiara yang bertebaran di bibir pulau dan Tumbuh – tumbuhan yang sangat subur menandahkan sebuah pulau dengan hasil alam yang melimpah untuk kehidupan masyarakatnya tidak heran kalau daerah ini juga tidak kekurangan air bersih jadi sangatlah cocok untuk berekowisata ke tempat ini.

Jumlah Penduduk yang tinggal di Kampung Kawio adalah 426 jiwa laki-laki 218 dan perempuan 208 jiwa
Di pimpin oleh seorang Kapitalaung yang di pilih oleh rakyat dan masa jabatannya selama 5 Tahun. Adat dan Tradisi sangat berperan penting dalam pandangan hidup masyarakat kawio sehingga nilai-nilai tradisi yang ada, menambah keanekaragaman adat dan Tradisi di Tanah Air Kita Republik Indonesia.

II. Sejarah Kampung Kawio

Dahulu kala Kawio adalah sebuah pulau yang tidak berpenghuni setiap orang orang melakukan perjalanan ke negara tetangga Philipina dan di tengah pelayaran ketika terjadi badai mereka harus singgah di pulau kawio sementara menunggu badai redah mereka berkumpul dan melakukan upacara adat mebio. setelah ada yang tinggal menetap di pulau ini maka Pulau tersebut di namakan Kawio lama kelamaan makin bertambah penduduk di pulau ini ketika orang dari Philipina sudah mengetahui bahwa pulau tersebut sudah berpenghuni maka mereka ingin menguasainya. Pada waktu itu tidak ada orang yang tinggal di kawio mempertahankan pulau ini sehingga di kuasai oleh Philipina namun datanglah 3 (tiga) orang pemberani dari Tabukan Lama yang bernama Mamoha Datu beserta 2 (dua) Orang saudaranya perempuan. Mamoha Datu Mempertahankan Pulau Kawio sedangkan Saudaranya perempuan masing-masing mempertahankan pulau marore dan Pulau Matutuang.

Walaupun belum ada Gereja tetapi mereka sudah mengenal “I Ghenggonalangi” artinya Allah Sang Pencipta, dengan cara Mamoha Datu bersama dengan orang yang tinggal di Kawio berkumpul di satu tempat yaitu di sebut Dokole (Pulau Kecil berada di sebelah Utara Pulau Kawio) untuk memanjatkan doa sambil membawah persembahan berupa uang logam di letakan di tempat tersebut dengan harapan mereka menang berperang dengan orang Philipina. Namun dalam berperang Mamoha Datu dan Penduduk Setempat selalu menang berperang dengan orang Philipina. Dahulu Pulau Dokole ini juga berfungsi untuk melihat perahu layar yang dari Philipina yang datang berperang melawan penduduk setempat dan sekarang di sebut Bukit Doa.

III. Adat, Tradisi dan Budaya

Kebudayaan di Kampung Kawio pada umumnya berasal dari Sangihe karena orang yang tinggal di Kampung ini berasal dari Sangihe namun sampai sekarang ada beberapa Budaya yang masih di pertahankan oleh masyarakat Kawio yang sudah jarang atau tidak lagi terdapat di pulau sangihe. Adapun adat tradisi dan budaya yang di lakukan yaitu Setiap hari minggu setiap orang tidak boleh melakukan perkerjaan apapun selain beribadah aktifitas atau kerja di lakukan pada hari senin sampai sabtu, Tidak boleh ada hubungan asmara apabila pasangan tersebut masih mempunyai hubungan keluarga adapun ganjaran/atau hukuman bagi orang yang melanggar adat dan tradisi serta perbuatan jahat lainya yaitu :
•  Meniate adalah hukuman berupa menyediakan makanan kemudian mengundang masyarakat bersama-sama menikmati makanan tersebut.
•  Mengubike adalah hukuman berupa mengangkat pasir atau batu untuk di buat sarana umum misalnya pembuatan balai kampung, jalan dan lain-lain.
•  Memohang adalah hukuman berupa seruan berulang ulang di sepanjang rumah yang ada di Kampung Kawio dengan kalimat bahwa tidak akan mengulangi lagi dan jangan mengikuti kejahatan yang di lakukannya.

Sedangkan untuk tari-tarian adat yaitu Upase, Tari gunde sering di pertunjukan pada acara adat atau penyambutan tamu. Pada setiap bulan Januari dan Februari masyarakat melaksanakan upacara adat yang di sebut TULUDE.

IV. Gambaran Wilayah Kampung Kawio

•  Letak Geografis

Berdasarkan PP. No 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia maka Pulau Kawio Berada pada posisi 4 0 40' 15,99” Lintang Utara dan 125 0 25' 41,02” Bujur Timur berupa tanda batas negara dalam bentuk Titik Dasar (TD) No.055.

Pulau Kawio mempunyai batas – batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara : P. Marore dan Laut Philipina
- Sebelah Timur : P. Matutuang
- Sebelah Selatan : P. Kawaluso
- Sebelah Barat : Laut Sulawesi

•  Luas Wilayah dan Kondisi Wilayah

Luas Wilayah Kampung Kawio adalah ± 140,11 Ha dan berada pada ketinggian 56,64 mater di atas permukaan laut. Dalam setahun angin yang sering bertiup adalah angin Utara (angin yang bertiup dari arah utara ke selatan), Angin Selatan (angin yang bertiup dari arah selatan ke utara) dan juga Angin Barat (angin yang bertiup dari Barat Ke Timur) sehingga tidaklah heran kalau daerah ini sering bergelombang. Curah hujan pun sangat rendah tapi di sini persediaan air sangat cukup karena terdapat beberapa mata air sumur. Selain itu pula di daerah perairan Kawio terdapat gunung api bawah laut yang diberi nama Gunung Api Kawio Barat.

V. Sarana - Prasarana Umum

•  Kantor Kapitalaung

Digunakan untuk Pelayanan umum yang bersentuhan langsung dengan masyarakat

•  Puskesmas

Puskesmas Pembantu (Pustu) mempunyai 1 (satu) orang tenaga perawat sehingga dalam melayani masyarakat yang sedang sakit, merasa kesulitan karena dalam pelayanan tidak maksimal apalagi setiap malam, entah tengah malam atau subuh harus melayani pasien. Perlu adanya tambahan tenaga Dokter juga tenaga Perawat dan Bidan yang lebih siap melayani mengapdi untuk masyarakat di Pulau-pulau terluar. Sehingga Masyarakat tidak akan membuang waktu dan juga biaya sewa perahu untuk berobat / rujukan ke Puskesmas Marore atau Ke Rumah Sakit Umum Tahuna.

•  Sekolah Dasar (SD)

Salah Satu fasilitas belajar di kampung Kawio yaitu Yayasan Pendidikan Kristen Sekolah Dasar Gmist Smirna Kawio mempunyai 9 (sembilan) Ruangan terdiri dari 6 (enam) Ruang Kelas, 1 (satu) Ruang Perpustakaan, 1 (satu) Ruang Guru dan 1 (satu) Ruang Unit Kesehatan Sekolah. Jumlah siswa 51 orang yaitu 26 siswa dan 25 siswi. Tenaga Guru berjumlah 6 (enam) orang terdiri dari 1 Orang Kepala Sekolah, 4 (empat) orang guru bantu PNS, 1 (satu) orang Tenaga honorer, dan 1 (satu) orang guru muda.

        next