Klaster
ini berada pada posisi geografis 3° 17'– 3° 59'LU
dan 125° 20'l – 125° 50'l BT dengan luas mencapai
702,27 km2 atau 69,33 % luas wilayah wilayah kabupaten secara
keseluruhan menjadikan klaster Sangihe sebagai terbesar dari
enam klaster yang ada. Klaster Sangihe merupakan klaster utama
sebab pada klaster ini terdapat pusat pemerintahan kabupaten
serta fasilitas-fasilitas yang berfungsi primer karena melayani
seluruh kebutuhan penduduk kabupaten baik dari sektor ekonomi
(perdagangan dan jasa), sektor transportasi (darat, laut dan
udara), sektor pendidikan, sektor pertanian-perkebunan, sektor
perikanan, sektor kesehatan dan sektor pertahanan dan keamanan.
Pusat kegiatan ini klaster terletak di Tahuna yang juga ibukota
kabupaten, pada klaster ini terdapat 10 wilayah administrasi
kecamatan dan keterhubungan dengan pusat klaster pada umumnya
dilayani oleh angkutan darat.
Klaster
Sangihe memiliki kondisi topografis yang bervariasi yaitu
dari dataran landai, kelerengan curam sampai dataran tinggi
dan puncak gunung dengan ketinggian mencapai + 1.320 m dpl.
Klaster ini memiliki gunung berapi aktif (G. Awu) yang berada
di bagian utara pulau Sangihe Besar. Keaktifan gunung berapi
ini memberi pengaruh yang sangat besar bagi lahan-lahan pertanian
dan perkebunan yang ada disekitarnya., Pengaruh ini memberi
dampak yang sangat besar terhadap hasil bumi yang terdapat
di kepulauan ini. Hasil perkebunan berupa kelapa, cengkih
dan pala yang juga berupa primadona bagi kabupaten, kebanyakan
berasal dari klaster ini.
Bagi
klaster lainnya klaster ini berperan sangat penting karena
berfungsi sebagai pemasok dari berbagai macam kebutuhan baik
pokok maupun kebutuhan penunjang., Dari klaster Sangihe barang-barang
kebutuhan penduduk yang berasal dari Manado atau Bitung didistribusi
ke klaster yang lain dengan menggunakan sarana transportasi
laut. Di klaster ini juga terdapat pusat pembelian hasil bumi
berupa perkebunan dan hasil tangkapan ikan di laut. Untuk
perannya terhadap kegiatan yang bersifat regional adalah,
sebagai penghubung antara ibukota propinsi dengan ibukota
kabupaten yang memanfaatkan jasa angkutan laut dan angkutan
udara sebagai moda angkutan. |