Daerah
perbatasan adalah berupa daerah terluar dan termasuk dalam wilayah
NKRI yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan daerah yang
dimaksud adalah pulau Marore dan pulau-pulau di sekitarnya.
Pulau-pulau yang masuk dalam wilayah perbatasan ini oleh Pemerintah
Kabupaten Kepulauan Sangihe ditetapkan dalam satu klaster yaitu
klaster pulau-pulau perbatasan, dari enam klaster yang ada.
Pada klaster pulau - pulau perbatasan, Pulau Marore merupakan
pulau yang terletak paling depan dan terdekat dengan perbatasan
antar Negara Filipina dan Indonesia, dengan kondisi tersebut
menjadikan pulau Marore sebagai pintu gerbang
perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau Marore
terletak paling utara dari wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe
dengan posisi geografi 4° 44' 14" LU – 125° 28' 42" BT yang memiliki luas + 3,12 km2 dan dibatasi oleh
wilayah laut yang tidak dapat dilayari secara bebas karena jaraknya
yang jauh baik dari pusat kecamatan (ibukota kecamatan) bahkan
dengan ibukota kabupaten dan keadaan cuaca yang sering tidak
bersahabat sehingga menjadi hambatan bagi transportasi laut
yang menjadi andalan keterhubungan pulau ini. Kondisi ini pun
berlaku pada pulau-pulau yang termasuk dalam klaster pulau-pulau
perbatasan. Situasi yang tidak menguntungkan, menyebabkan penduduk
terisolir dari wilayah dan kegiatan lain di Republik Indonesia
dan sangat renta terhadap pengaruh-pengaruh asing.
Pulau Marore terdiri dari satu kampung / desa
yaitu desa Marore dan terdiri dari 3 dusun dan satu anak desa
yaitu pulau Memanuk sebuah pulau yang tidak berpenghuni, hanya
sebagai tempat persinggahan sementara para nelayan pada musim
mencari ikan. Desa Marore memiliki jumlah penduduk mencapai
845 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 219 KK. Penduduk laki-laki
berjumlah 438 jiwa sedangkan penduduk perempuan berjumlah
404 jiwa. Mayoritas penduduk di pulau Marore adalah pemeluk
agama Kristen Protestan, sedangkan pemeluk agama lainnya adalah
penduduk pendatang yang umumnya adalah petugas-petugas yang
berdinas di pulau Marore. Penduduk di pulau Marore yang bermata
pencaharian sebagai petani/nelayan berkisar 30%, pegawai negeri
sipil 10%, pengusaha 4% dan mata pencaharian lain-lain 6%.
Tingkat pendidikan penduduk di pulau Marore sebagian besar
lulusan SLTP dan hanya sebagian kecil lulusan SLTA dan Sarjana.
Fasilitas
umum dan sosial yang terdapat di pulau Marore terdiri dari
fasilitas pendidikan berupa satu buah TK, satu buah SD Negeri
Marore dan satu buah SLTP Negeri Tabukan Utara. Fasilitas
Kesehatan adalah berupa Puskesmas pembantu dengan satu orang
tenaga medis. Keberadaan fasilitas kesehatan ini sangat minim
karena persediaan obat-obatan sangat kurang, sehingga untuk
kasus penyakit tertentu/berat pengobatannya harus dirujuk
ke RSU di Kota Tahuna. Di Marore terdapat satu buah fasilitas
peribadatan gereja. Sehubungan dengan ketersediaan fasilitas
perdagangan, di pulau Marore terdapat empat buah kios penjualan
yang menyediakan kebutuhan sehari-hari yang dikelola oleh
KUD dan perorangan.
Mobilitas penduduk yang ada di pulau Marore
saat ini sangat bergantung pada pelayaran kapal perintis yang
menyinggahi pulau Marore setiap minggu sekali. Kapal-kapal
perintis yang melayari route pulau Marore adalah KM Daraki
Nusa, KM Surya dan KM Daya Sakti. Sedangkan alternatif lain
bagi penduduk untuk melakukan mobilitas adalah dengan menggunakan
perahu nelayan jenis pumpboat yang tentunya harus menyesuaikan
dengan kondisi cuaca.
Sebagai
Border Crossing Area pada pulau Marore terdapat seorang Camat
Border Crossing Area (BCA) yang menangani para pelintas batas
dari Indonesia ke Filipina dan sebaliknya. Selain camat beberapa
petugas dari berbagai instansi seperti TNI AL, POLRI, petugas
imigrasi, petugas bea cukai, petugas kesehatan dan perwakilan
dari Filipina bertugas di Marore.
Tugas dan fungsi instansi yang disebutkan diatas adalah untuk
mengawasi lalu lintas manusia dan barang yang keluar dari
dan masuk ke wilayah Republik Indonesia. Selain itu pemerintah
juga membentuk satuan Hansip dan Wanra yang direkrut dari
masyarakat setempat untuk memperkuat pelaksanaan fungsi Hankam
di Pulau Marore.
|